Hasil Penelitian tentang

“Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap Kehadiran Jemaat di GBKP Klasis Jakarta Banten”


PENDAHULUAN

Gereja bertumbuh dan berkembang tidak hanya dilihat dari segi kualitas tetapi juga dari segi kuantitas. Dalam kitab Para Rasul 2 : 41 – 47 dijelaskan bahwa buah dari pengajaran yang dilakukan Petrus adalah semakin bertambahnya orang-orang yang percaya. Disamping secara kuantitas, secara kualitas jemaat semakin baik. Hal ini tertulis pada ayat 42 & 47 dimana mereka hidup rukun, seia sekata dan disenangi banyak orang. Jemaat tersebut memberi dampak yang positif baik secara internal dan eksternal, sehingga setiap hari jumlah mereka bertambah. Jemaat dengan tekun dan bersatu hati memuji Tuhan. Pertumbuhan secara kualitas dan kuantitas ini terjadi karena ketekunan, kesatuan dan komitmen para pemimpin yaitu para Rasul memberikan pengajaran dengan baik dan juga gaya hidup, prilaku dan karakter mereka mencerminkan karakter Yesus Kristus yang menjadi teladan.

LATAR BELAKANG MASALAH

Menurut John C. Maxwell, pemimpin adalah pengaruh. Karena itu, dalam suatu organisasi, baik sekuler maupun gereja, tidak dapat disangkal bahwa pemimpin memiliki pengaruh yang besar bagi kemajuan organisasi yang dipimpin olehnya. Pemimpin gereja mengatur dan mengelola gereja, yang dalam pengelolaannya berorientasi terhadap visi, misi, tujuan dan sasaran organisasi gereja dimana dia berada di dalamnya. Suatu organisasi ataupun gereja akan sulit bertumbuh dan mencapai kedewasaan tanpa kepemimpinan yang baik.

Gereja Batak Karo Protestan ( GBKP) adalah sebuah gereja yang berdiri pada 18 April 1890 di Buluh Awar diprakarsai oleh utusan dari NZG ( Nederland Zendings Genootschap) yaitu Pendeta H.C.Kruyt dan Nicolas Pontoh. Sampai pada tahun 2008 – jumlah jemaat GBKP di seluruh Indonesia sudah mencapai 285.041 jiwa, terdiri dari 20 klasis, 434 runggun, 327 perpulungen dan bajem. Pada tahun 2008 GBKP memiliki 252 pendeta dan 47 pendeta tidak memegang runggun, juga dibantu oleh vicaris dan calon vicaris. Jumlah pertua dan diaken di GBKP adalah 7.789 dan 924 yang sudah emeritus. Semuanya ini bekerja untuk mewujudkan visi GBKP “ Hidup Setia Kepada Tuhan ( Ngeluh Setia Man Tuhan ). Perwujudan visi ini akan terlaksana melalui 5 misi yang telah ditetapkan, yaitu :

  • Meningkatkan peribadatan / spiritualitas.
  • Menghargai Kemanusiaan.
  • Melakukan Keadilan, kebenaran, kejujuran dan kasih.
  • Mewujudkan warga yang dapat dipercaya.
  • Meningkatkan perekonomian rakyat.

Dari visi dan misi ini, jelas terlihat bahwa GBKP mau memberikan dampak yang baik, positif tidah hanya kepada jemaat tetapi juga kepada semua orang ciptaan Tuhan.

Untuk lebih memaksimalkan pelayanan terhadap jemaat dan keteraturan administrasi, maka dibuat system pembagian wilayah, yaitu klasis dan runggun. Klasis terdiri dari beberapa runggun dan runggun bisa juga terdiri dari beberapa bajem ( bakal jemaat ). Salah satu klasis adalah klasis Jakarta Banten yang terdiri dari 11 runggun ( gereja lokal ) + 4 bajem. Dengan jumlah keanggotaan jemaat yang besar dan tersebar di berbagai daerah dan dengan tingkat usia, pendidikan, mata pencaharian yang berbeda, maka dibutuhkan pemimpin-pemimpin GBKP yang handal, memiliki integritas yang tinggi, memiliki pandangan wawasan yang luas, memaksimalkan potensi atau talenta jemaat dan menjadi teladan bagi orang lain khususnya jemaat. GBKP dengan didukung sumber daya manusia (pemimpin) yang handal akan memenuhi kebutuhan rohani jemaat dan juga memberikan solusi bagi jemaatnya.

Pada saat ini, dengan usia gereja mendekati 123 tahun, GBKP merupakan sebuah gereja suku yang sudah dan sedang melakukan perubahan-perubahan untuk memberikan pelayanan yang terbaik, menjawab kebutuhan jemaat dan tantangan zaman yang semakin kompleks dan akhirnya mencapai visi dan misi GBKP secara keseluruhan. Perubahan-perubahan itu mulai dari perubahan tatacara ibadah, penggunaan alat musik, struktur organisasi, dan juga peningkatan kualitas dari sumber daya manusia, memaksimalkan potensi atau talenta jemaat, memotivator jamaat dan sebagainya, sehingga terwujud pelayanan masyarakat , khususnya jemaat secara holistic.

Pemimpin gereja atau yang disebut Majelis gereja di GBKP adalah para pendeta, Pertua dan Diaken. Para pertua dan diaken dipilih oleh jemaat di runggun masing-masing

Karena keterbatasan SDM (sumber daya manusia), maka belum dilakukan sistem rekruitmennya yang standard seperti tingkat edukasi, pengalaman, sikap hidup, keahlian, keaktifan dan sebagainya. Rekruitmen lebih cenderung berdasarkan kesediaan seseorang menjadi pertua dan diaken dan dilakukan pemilihan. Memangku jabatan sebagai pertua dan diaken masih merupakan kebanggaan (prestige). Setelah terpilih, banyak pertua dan diaken yang belum memaknai panggilannya dan yang menjadi tanggungjawabnya dan belum memiliki kompetensi sebagai pertua dan diaken. Pembinaan dan peningkatan terhadap pertua dan diaken dapat dikatakan sangat minim, padahal disamping itu mereka memegang tanggung jawab yang besar terhadap perkembangan dan pertumbuhan jemaat baik secara rohani maupun secara organisasi non profit. Biasanya di dalam 1 ( satu ) gereja local (runggun) – terdiri dari 1 (satu) pendeta dan beberapa (puluhan) pertua dan diaken. Para pertua dan diaken berperan sebagai ujung tombak bagi pertumbuhan dan perkembangan gereja. Jadi jelaslah bahwa peran para pertua dan diaken sangat penting dan menentukan perjalanan GBKP secara keseluruhan. Dengan demikian sudah merupakan keharusan bagi gereja untuk melakukan pembinaan secara berkesinambungan terhadap pertua dan diaken, selain pembinaan pendeta, pengurus kategorial, pengurus PJJ dan jemaat, sehingga jemaat selalu memiliki kerinduan untuk hadir bersekutu bersama-sama di gereja. Namun pada kenyataannya , dewasa ini tingkat kehadiran hanya sekitar 40-50% ( secara global seluruh GBKP ).

Permasalahan lain dalam GBKP adalah perbedaan pandangan dalam pelayanan yang tidak diselesaikan dengan segera, sehingga menyebabkan konflik internal diantara para majelis yaitu antara Pendeta dengan pertua; pertua dengan pertua, Diaken dengan pendeta, pertua dengan diaken, diaken dengan diaken. Konflik ini menimbulkan kegusaran di dalam jemaat dan hal ini juga merupakan salah satu kendala dalam pertumbuhan gereja. Menurut data moderamen bahwa tingkat kehadiran jemaat dalam persekutuan hanya sebesar 40-50% dari jumlah jemaat yang terdaftar. Dan menimbulkan pertanyaan dimana 50% lagi jemaat dan mengapa jemaat tidak tertarik datang bersekutu.

Dampak dari pelayanan para pemimpin yang kurang maksimal tersebut, jemaat akhirnya merasakan kurangnya perhatian atau bahkan terabaikan. Ibadah dan pelayanan yang seharusnya penuh kasih dan damai menjadi suatu kewajiban atau rutinitas belaka.

Dewasa ini, banyak pemimpin GBKP memiliki kerinduan untuk membangkitkan dan meningkat kehadiran kehadiran jemaat mencapai 70-80%. Para pemimpin hendaknya melakukan evaluasi dan perencanaan program-program, pembinaan sumber daya manusia untuk mengembangkan gereja menjadi lebih baik ke depannya. Evaluasi setiap program yang sudah dilaksanakan wajib dilakukan untuk mengetahui pencapaian hasil. , Untuk pembinaan sumber daya manusia, pengembangan kepemimpinan, juga evaluasi dan perbaikan terhadap kinerja pemimpin gereja belum dilakukan dengan maksimal.

Sebagai pemimpin gereja, merupakan suatu kewajiban mendasar untuk menggembalakan umat Tuhan sebagai bukti bahwa kita mengasihi Tuhan, seperti 3 kali pertanyaan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus kepada Petrus dalam Yohanes 21:15-17 "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? .... Gembalakanlah domba-domba-Ku." Hal ini begitu pentingnya, sampai-sampai Tuhan Yesus mempertanyakan 3 kali kepada Simon Petrus. Namun, untuk mengembalakan jemaat , maka gembala ( pemimpin ) – para pendeta, pertua dan diaken haruslah memenuhi criteria sebagai pemimpin , seperti yang tertulis di Kitab Yehezkiel 34 bagi Pendeta dan Titus 1 : 5 – 16 bagi Pertua dan Diaken.

1:5 Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu,
1:6 yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib.
1:7 Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah,
1:8 melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri
1:9 dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya.
1:10 Karena sudah banyak orang hidup tidak tertib, terutama di antara mereka yang berpegang pada hukum sunat. Dengan omongan yang sia-sia mereka menyesatkan pikiran.
1:11 Orang-orang semacam itu harus ditutup mulutnya, karena mereka mengacau banyak keluarga dengan mengajarkan yang tidak-tidak untuk mendapat untung yang memalukan.
1:12 Seorang dari kalangan mereka, nabi mereka sendiri, pernah berkata: "Dasar orang Kreta pembohong, binatang buas, pelahap yang malas."
1:13 Kesaksian itu benar. Karena itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman,
1:14 dan tidak lagi mengindahkan dongeng-dongeng Yahudi dan hukum-hukum manusia yang berpaling dari kebenaran.
1:15 Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis.
1:16 Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.

1 Tim 3: 1-13

3:1 Benarlah perkataan ini: "Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah.
3:2 Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang,
3:3 bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang,
3:4 seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya.
3:5 Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?
3:6 Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis.
3:7 Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis.
3:8 Demikian juga diaken-diaken haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah,
3:9 melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci.
3:10 Mereka juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat.
3:11 Demikian pula isteri-isteri hendaklah orang terhormat, jangan pemfitnah, hendaklah dapat menahan diri dan dapat dipercayai dalam segala hal.
3:12 Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik.
3:13 Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa.

Dari nats Alkitab di atas, terpapar dengan jelas dan tegas kriteria sebagai pemimpin gereja. Para pemimpin gereja harus menjadi teladan bagi keluarga, jemaat dan masyarakat, memahami makna panggilan, memahami dan melaksanakan tugas dan tanggungjawab, memiliki sikap hidup yang benar, sehingga terjadi pertumbungan dan perkembangan gereja dan tingkat kehadiran jemaat akan meningkat. Seperti yang tertulis dalam Kisah Para rasul 2 – maka mereka bertumbuh dan berkembang secara kuantitas dan kualitas. Yang menjadi pertanyaan, apakah para pemimpin gereja di Gereja Batak Karo Protestan dalam pelayanan melakukan yang terbaik untuk Tuhan? Sudahkah menjadi gembala/pemimpin sesuai teladan Kristus dalam memimpin umat Tuhan?

Berdasarkan penjelasan Latar Belakang diatas, dapat dikatakan bahwa Pertumbuhan dan perkembangan Gereja Batak Karo Protestan tidak terlepas dari peran para pemimpin gereja karena para pemimpin memberikan pengaruh yang besar terhadap jemaat. Oleh karena itu para pemimpin hendaknya mengerti dan memahami akan fungsi dan tugasnya sebagai pelayan dan mencerminkan keteladanan serta memiliki karakter Kristus. Bagaimana kecenderungan faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap kehadiran jemaat di GBKP klasis Jakarta Banten? Dan Indikator mana yang paling dominan menentukan terbentuknya faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Kehadiran Jemaat GBKP di klasis Jakarta Banten.

Dari kajian teori, maka didapat 12 exogenus indikator (X) yang dapat memberikan pengaruh ( kontribusi ) kepada endogenus variabel (Y) yaitu :

  • Kepemimpinan Pendeta ( X1 )
  • Kemampuan Pendeta ( X2)
  • Keteladanan Pendeta ( X3)
  • Pelayanan, Sikap Hidup Pendeta dan Keluarga ( X4)
  • Kepemimpinan Pertua dan Diaken ( X5)
  • Kemampuan Pertua dan Diaken ( X6)
  • Keteladanan Pertua dan Diaken (X7)
  • Sikap Hidup Pertua dan Diaken dan Keluarga ( X8)
  • Pelayanan Pertua dan Diaken ( X9)
  • Lokasi dan Fasilitas Gereja ( X10)
  • Kondisi Sosial Ekonomi Jemaat ( X11)
  • Kondisi Sosial Budaya ( Hubungan Persaudaraan ) Jemaat ( X12 )

RUMUSAN HIPOTESA PENELITIAN

Bagian hipotesis ini akan membahas kecenderungan Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kehadiran Jemaat GBKP di Klasis Jakarta Banten dan aspek dominan yang membentuk Kehadiran Jemaat.

  • Hipotesa Pertama adalah Faktor-faktor Cukup Memberikan Pengaruh Terhadap Kehadiran Jemaat diGBKP di Klasis Jakarta Banten.
  • Hipotesa Kedua, indikator dominan yang membentuk Kehadiran Jemaat GBKP di Klasis Jakarta Banten adalah indikator Kemampuan Pendeta.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris kecenderungan Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kehadiran Jemaat di Gereja Batak Karo Protestan di klasis Jakarta Banten. Secara rinci, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi empiris mengenai:

  1. Kecenderungan Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kehadiran jemaat di GBKP klasis Jakarta Banten.

  2. Indikator yang paling dominan menentukan terbentuknya Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kehadiran jemaat di GBKP klasis Jakarta Banten.

Tempat penelitian adalah Gereja Batak Karo Prostestan se-klasis Jakarta Banten. Secara rinci tempat penelitian tersebar di 11 gereja lokal yang menjadi objek penelitian dengan jumlah responden 274 orang. Gereja-gereja yang menjadi tempat penelitian adalah GBKP Tangerang, Cengkareng, Cileduk, Keb. Lama, Tg.Priuk, Rawamangun, Jakarta Pusat, Pasar Minggu, Pamulang, Pengumben dan Karawaci. Adapun waktu pelaksanaan uji coba instrumen dilaksanakan di GBKP Karawaci pada bulan Februari 2013, dan pengambilan data sampel penelitian dilakukan selama 2 (dua) bulan yaitu bulan Februari dan Maret 2013. Penyelesaian analisis data statistika dan penulisan laporan dikerjakan pada bulan Maret sampai dengan April 2013.

Metode penelitian yang digunakan adalah survei yang bersifat eksplanatori dan konfirmatori. Penelitian survei ini juga bersifat eksplanatori, karena dalam prosesnya, penelitian ini ingin mengkaji atau mengeksplorasi secara mendalam variabel terikat (Y) yang disebut dependent variable yang dalam penelitian ini variabel tersebut difungsikan sebagai endogenous variable. Dalam penelitian ini, populasinya adalah jemaat GBKP se klasis Jakarta Banten. Dari jumlah populasi akan diambil sampel 274 . Dan untuk uji coba sebanyak 30 orang jemaat.

Teknik pengambilan sampel dengan Simple Random Sampling yaitu pengambilan sampel dari anggota populasi secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi, karena asumsinya semua jemaat GBKP se klasis Jakarta memiliki peluang yang sama sebagai anggota sampel. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode angket untuk mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kehadiran Jemaat di GBKP se klasis Jakarta Banten.

Angket yang dikembangkan untuk mengukur kecenderungan Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Kehadiran Jemaat GBKP se klasis Jakarta Banten menggunakan skala ”Model Likert” dengan rentang skala data 1 sampai dengan 5. Skala Likert dipergunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang suatu gejala atau fenomena social.

KESIMPULAN HASIL PENELITIAN

Dari hasil penelitian mengenai Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kehadiran Jemaat di Gereja Batak Karo Protestan di klasis Jakarta Banten. Maka dapat diambil beberapa kesimpulan :

  1. Dari hasil penelitian dihasilkan bahwa terdapat hubungan positif atau toleransi positif keduabelas (12) indikator bebas atau exogenus variable (X1-12) terhadap indikator terikat atau endogenus variable (Y) Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kehadiran Jemaat di GBKP klasis Jakarta Banten.

  2. Berdasarkan hasil penelitian Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kehadiran Jemaat GBKP di klasis Jakarta Banten cenderung dalam kondisi CUKUP BERPENGARUH. Dengan demikian terbukti hipotesa 1 yang menyatakan bahwa Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kehadiran jemaat GBKP di klasis Jakarta Banten cenderung Cukup Berpengaruh.

  3. Keduabelas indicator (X1-12) atau yang disebut exogenous variable turut memberikan kontribusi terhadap variable terikat (Y) baik secara sendiri-sendiri dengan nilai yang berbeda. Besaran kontribusi variable bebas terhadap variable terikat tidak sama atau bervariasi. Hasil tersebut juga berubah ketika dikontrol oleh variable bebas lainnya. Kedua belas indicator tersebut adalah :

  • Kepemimpinan Pendeta ( X1 )
  • Kemampuan Pendeta ( X2)
  • Keteladanan Pendeta ( X3)
  • Pelayanan, Sikap Hidup Pendeta dan Keluarga ( X4)
  • Kepemimpinan Pertua dan Diaken ( X5)
  • Kemampuan Pertua dan Diaken ( X6)
  • Keteladanan Pertua dan Diaken (X7)
  • Sikap Hidup Pertua dan Diaken dan Keluarga ( X8)
  • Pelayanan Pertua dan Diaken ( X9)
  • Lokasi dan Fasilitas Gereja ( X10)
  • Kondisi Sosial Ekonomi Jemaat ( X11)
  • Kondisi Sosial Budaya ( Hubungan Persaudaraan ) Jemaat ( X12 )

  1. Berdasarkan hasil analisis penelitian keeratan hubungan secara sendiri-sendiri X terhadap Y membuktikan bahwa indicator yang paling dominan menentukan terwujudnya Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap kehadiran jemaat di GBKP klasis Jakarta Banten (Y) adalah Pelayanan Pertua Diaken (X9) sebesar 80,90 %. Dan keeratan hubungan ini semakin meningkat ketika dikontrol (didukung) oleh Kondisi Sosial Budaya ( Hubungan Persaudaraan) jemaat (X12), maka hasilnya menjadi 81.50%. Hal ini menunjukkan bahwa variable exogenous X9 dikontrol X12 memberikan kontribusi terbesar yaitu 81.50% terhadap variable Endogenus dan sisanya diberikan oleh faktor-faktor lain.

  1. Secara sendiri-sendiri bahwa Kemampuan Pendeta dan Kemampuan Pertua dan Diaken memberikan kontribusi yang hampir sama, yaitu 65,7% (X2) untuk Pendeta dan 63,2% (X6) untuk Pertua dan Diaken. Hal ini membuktikan bahwa Kemampuan Pendeta, Pertua dan Diaken berimbang atau memberikan kontribusi yang sama.
  2. GBKP sebagai gereja kesukuan, tidak bisa dipisahkan dari hubungan kekerabatan. Hal ini terbukti bahwa X12 cukup memberikan kontribusi terhadap Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Kehadiran Jemaat GBKP di Klasis Jakarta Banten yaitu sebesar 41,8% (X12) dan 58,2% diisi oleh faktor lain.
  3. Hasil analisis membuktikan bahwa pengaruh exogenous variable (Y) secara bersama-sama terhadap endogenus variable (X12) nenunjukkan bahwa Pelayanan Pertua dan Diaken (X9) adalah indicator yang paling dominan menentukan terbentuknya Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kehadiran Jemaat di GBKP klasis Jakarta Banten (Y). Adapun indicator Pelayanan Pertua Diaken sangat dipengaruhi oleh indicator Keteladanan Pertua dan Diaken yaitu 73,3% (X7). Semakin besar dukungan X7 ( Keteladanan Pertua dan Diaken ) terhadap X9 ( Pelayanan Pertua dan Diaken ) maka X9 (Pelayanan Pertua dan Diaken) akan meningkat 1299,508 kali dari kondisi kehadiran jemaat sekarang ini.

Dari hasil penelitian ini maka tidak terbukti hipotesa 2 bahwa indicator yang paling dominan memberi pengaruh terhadap kehadiran jemaat GBKP di klasis Jakarta Banten adalah X2 yaitu Kemampuan Pendeta (65.7%). Hasil penelitian membuktikan bahwa indicator yang paling dominan memberi pengaruh terhadap kehadiran Jemaat adalah Pelayanan Pertua dan Diaken ( X9 ) dan akan meningkat ketika didukung oleh Keteladanan Pertua dan Diaken.

  1. Hasil penelitian secara butir-butir dengan menjumlahkan 1 (SK) +2 (K) +3 (S) dari total angket 274 buah bagi PENDETA (dapat dilihat pada Tabel 1).

(Tabel 1)  Hal-hal yang perlu mendapat Perhatian tentang Pendeta (Baik ≤ 50%)
No. Parameter Sedang  Baik Sangat Baik
(%)  (%)  (%)
1 Kemampuan berkhotbah 34.7 50 15.3
2 Mengenal Anggota Jemaat 39.8 35.4 24.8
3 Ide-Ide Baru dalam Pelayanan 52.6 33.9 13.5
4 Mau dikoreksi / dikritik 39.1 36.5 24.5
5 Kerja sama dengan Pt/Dk 36.9 40.9 22.2
8 Mampu menyelesaikan masalah 61.3 30.3 8.4
9 Menyambut Jemaat 46.4 31 22.6
10 Penyesuaian diri 46.4 33.2 20.4
11 Perkunjungan Rumah Tangga 60.2 25.2 14.6
12 Responsif dalam berkomunikasi 55.8 34.3 9.9

  1. Hasil penelitian secara butir-butir dengan menjumlahkan 1 (SK) +2 (K) +3 (S) dari total angket 274 buah bagi Pt/Dk (dapat dilihat pada Tabel 2).

(Tabel 2)  Hal-hal yang perlu segera diperbaiki (Kritis) tentang Pt/Dk (Baik ≤ 35%)
No. Parameter Sedang  Baik Sangat Baik
(%)  (%)  (%)
1 Cakap Meminpin 65.7 27.7 6.6
2 Kerja sama dalam Pelayanan 62.4 28.5 9.1
3 Mengembangkan GBKP 54.8 34.3 10.9
4 Hadir Tepat Waktu 62.4 33.2 4.4
5 Perbuatan Sejalan dgn Perkataan 76.3 20.8 2.9
6 Berani menyatakan benar / salah 70.8 27 2.2
7 Kemampuan Berkhotbah 69.4 27.7 2.9
8 Menyelesaikan Masalah 77 20.1 2.9
9 Memiliki Hubungan yang Erat dengan Tuhan 62.8 33.6 3.6
10 Dapat Menjaga Rahasia 62.4 33.2 4.4
11 Melayanai bukan dilayani 55.5 34.3 10.2
12 Terbuka terhadap perubahan 62.4 33.2 4.4
13 Rensponsif dalam berkomunikasi 58.4 35 6.6
14 Menjadi Teladan 63.5 32.1 4.4
16 Pekabaran Injil dengan baik 65.7 31.4 2.9
17 Merawat Inventaris 63.5 34.3 2.2
18 Tanggap thdp pergumulan Jemaat 69.8 26.6 3.6
19 Memberi Solusi 68.3 26.6 5.1
 

SARAN - SARAN

Dari hasil-hasil penelitian yang telah diketahui, maka peneliti memberikan saran-saran untuk meningkatkan kehadiran jemaat GBKP di klasis Jakarta Banten. Secara umum maka perlu dilakukan pembinaan untuk meningkatkan dan memaksimalkan pelayanan agar memberi dampak positif terhadap Pendeta dan Pertua / Diaken. Pembinaan yang menjadi prioritas adalah pembinaan dalam lingkup Pelayanan Pertua dan Diaken (X9) karena indikator ini memberikan kontribusi terbesar yang Berpengaruh terhadap tingkat kehadiran jemaat GBKP di klasis Jakarta Banten. Dilain sisi, pembinaan terhadap Pendeta juga harus dilakukan karena memberikan kontribusi yang cukup besar juga terhadap kehadiran jemaat. Adapun prioritas pembinaan yang hendaknya dilakukan adalah :

  1. Perlu dilakukan pembinaan terhadap para pendeta di klasis Jakarta Banten karena hasil angket sebanyak 12 parameter yang perlu mendapat perhatian pada Tabel 1 agar meningkat menjadi lebih besar 50%.

  2. Dari hasil penelitian, Pelayanan Pertua dan Diaken memberi kontribusi yang paling tinggi terhadap Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kehadiran Jemaat GBKP klasis Jakarta Banten, oleh karena itu disarankan agar membuat program khusus untuk pembinaan para Pertua dan Diaken, khususnya pada bidang Pelayanan Pertua dan Diaken, seperti terlihat pada pada Tabel 2 ada 19 parameter agar meningkat menjadi lebih besar 35 %.

  3. Pembinaan terhadap Pertua dan Diaken di semua indicator segera diprogramkan dan dilaksanakan secara bertahap dan terus menerus.


Jakarta, 19 Maret 2013
Seksi Litbang Klasis Jakarta Banten
 
Ir. HARUN TAMBUN                                                            Dr. LINDA SITEPU