BAB - III
KONDISI SUMBERDAYA MANUSIA GBKP SAAT INI

Yang dimaksud dengan sumberdaya manusia dalam organisasi GBKP adalah para presbiter dan jemaatnya. Para presbiter ialah Pendeta, Pertua dan Diaken. Sedangkan jemaatnya ialah Mamre, Moria dan Permata serta Kelompok KA/KR yang akan diuraikan bagaimana kondisi dari pada para prsebiter dan jemaat berdasarakan hasil penelitian yang telah ada.

A. PENDETA

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Biro Litbang GBKP tahun 2010 yang berjudul Masalah masalah pokok GBKP maka yang berkaitan deNgan pendeta ditemukan masalah sebagai berikut :

  1. Pendeta belum memenuhi syarat sebagai pemimpin, guru dan gembala
  2. Proses rekruitmen pendeta tidak menjamin terpilihnya yang memiliki panggilan
  3. Pembinaan pendeta setelah bertugas masih kurang
  4. Pendeta cendrung kurang mau diarahkan kesatuan organisasinya .

Dalam penelitian tersebut telah diampaikan saran saran sebagai berikut

  1. Proses rekruitment pendeta disempurnakan dengan melibatkan ahli psikologi sosial, dan crash program jangan dipaksakan kalau tak dapat calon yang panggilan .
  2. Dilakukan pemetaan pendeta. Salah satu cara ialah dengan mengevaluasi pendeta yang pernah dibuat Pdt Dr Minda Perangin angin yang gagal dilaksanakan. Di Korea para pendeta di evaluasi satu kali setahun
  3. Pembinaan dan revitalisasi pendeta berdasarkan hasil pemetaan. Perencanaan ini dibuat Kabid SDM dengan melibatkan pakar yang berkaitan
  4. Melakukan sistem mentoring pada Pendeta . Mentor ini memberikan masukan pada pendeta tentang pelayanan, etika keluarga ( bukan teologia ) dsb, yang sifatnya hati kehati . Mentor ini dipilih oleh pendeta
  5. Meminta kepada STT agar mengevaluasi kembali kurikulumnya agar pendeta bisa menjadi pemimpin, misalnya menambah kurikulum tentang leadership
  6. Penempatan pendeta dibuat terbuka dengan cara GBKP minta kepada Majelis Jemaat, bagaimana pendeta yang dikendaki dan Modermen menseleksi dan apabila terpilih membuat visi dan misinya

B. PERTUA DIAKEN

Dari hasil penelitian masalah pokok GBKP tersebut juga telah ditemukan masalah masalah yang berkaitan dengan Pertua Diaken yaitu :

  1. Pertua Diaken belum memenuhi syarat sebagai penilik dan pelayan jemaat
  2. Proses rekruitment Pertua Diaken tidak menjamin terpilih yang baik
  3. Pembinaan Pertua Diaken setelah bertugas sangat kurang

Saran saran dari penelitian tersebut ialah :

  1. Proses rekruitmen Pt/Dk dengan cara ada praseleksi bagi runggun yg sudah siap melaksanakannya. Hal ini memerlukan pengaturan dalam tata gereja
  2. Pembinaan Pt/Dk oleh Klasis, dan bahan pembinaan dipersiapkan oleh Moderamen. Dalam pembinaan ini dipilih pengajar yang mempunyai keahlian untuk mengajar tidak mesti Pendeta. Di tiap Klasis perlu dibentuk unit pelatihan dan pengembangan / Hal ini sedang dirancang oleh Biro Litbang GBKP

Sementara itu dari hasil penelitian masa jabatan dan kesiapan pertua diaken diperoleh hasil bahwa kesiapan pertua diaken dalam menjalankan tugasnya setelah terpilih ialah 44.91 % mengatakan siap, 42% ragu-ragu 10.7% tidak siap, 48.25% dari segi sikap sikapnya maka para responden mengatakan sikap Pt/Dk layak, 29.2 % ragu ragu dan 19.4% tidak layak.

Penelitian pertua diaken juga menyarankan :

  1. Syarat untuk menjadi pertua diaken ditambah, dan untuk pertua diaken incumbent juga dilihat bagaimana kinerjanya selama ini
  2. Sebelum pemilihan diadakan pembekalan kepada semua jemaat
  3. Sistem rekruitmet perlu disempurnakan
  4. Diadakan evaluasi kinerja calon terpilih sebelum ditangkuhkan
  5. Untuk meningkatkan kualitas pt dk diadakan pembinaan secara terus menerus

Penelitian lain dari Biro Litbang GBKP tahun 2012 ,mengenai sistem pola Keterpanggilan pertua diaken dan pembinaannnya telah mencatat berbagai masalah antara lain :

  1. Jemaat belum dapat menilai dengan baik kualitas para calon tentang pemahaman teologia maupun keterpanggilannya sebagai pertua diaken
  2. Proses pemilihan singkat, dilakukan tergesa-gesa, sehingga yg terjaring sebagian tidak memiliki keterpanggilan.
  3. Ada calon Pertua/Diaken yang merasa terpaksa
  4. Faktor kekeluargaan dan hubungan emosional menjadi salah satu pertimbangan jemaat
  5. Ada indikasi proses pemilihan dipengaruhi imbalan tertentu. ( hal didukung oleh hasil penelitian walaupun persentasenya kecil )
  6. Di perkotaan ada bakal calon yang memiliki potensi menjadi Pt/Dk, tetapi tidak tekun, sementara di pedesaan sebaliknya
  7. Masih ada pertua diaken terpilih yang pemahaman Alkitabnya dibawah jemaat awam
  8. Ada gejala bahwa jabatan pertua diaken dianggap sebagai status sosial yg dikejar
  9. Kalau persyaratan pemilihan calon Pertua Diaken perkotaaan sama dgn pedesaan maka sulit mencari calon di pedesaan
  10. Masih ada calon Pertua Diaken yang hanya aktif di pada saat pemilihan, setelahnya tidak lagi
  11. Kualitas pertua diaken yang terpilih antar sektor masih timpang.

Mengenai pemilihan Pertua Diaken, dalam penelitian menyarankan :

  1. Proses pemilihan diperpanjang jadi 1 tahun agar bisa menjaring calon yg terpanggil
  2. Sebaiknya dilakukan evaluasi keaktifan bakal calon selama setahun terakhir,
  3. Sebelum pemilihan, diadakan pembinaan pada jemaat sebanyak 3 kali, dan kehadirannya menjadi persyaratan pencalonan.
  4. Panitia pemilihan hendaknya ditunjuk yang professional dan independent, karena Sidang Runggun kurang berani bertindak.
  5. Calon Pt/Dk incumbent, syaratnya diperketat kehadiran di kegiatan gereja
  6. Daerah perkotaan, kriteria calon Pt/Dk harus berpendidikan minimal SMA
  7. Absensi PJJ, Sermon diadakan untuk Pt/Dk
  8. Setelah calon pt dk terpilih diadakan evaluasi selama 6 bulan sebelum ditangkuhken.
  9. Pemetaan perkotaan dan pedesaan perlu dilakukan dan sistem pemilihan dibedakan
  10. Pengurus Persekutuan Katagorial yang dikader sebagai pertua diaken .

Mengenai pembinaan pertua diaken setelah terpilih maka ditemukan masalaah :

  1. Kualitas Pertua Diaken belum memuaskan.
  2. Pertua Diaken harus diberi pembinaan mengenai etika dan kepemimpinan.
  3. Pelaksanaan pembinaan Pertua Diaken masih sangat kurang. Bahkan ada Pembina yang tidak mempunyai kapabilitas
  4. Pembinaan permulaan Pt/Dk terlalu banyak materinya sehingga mubazir karena tidak terserap peserta. Pesertanya juga terlalu banyak sehingga tidak focus.
  5. Kehadiran Pt/Dk perlu diperhatikan supaya bisa disiplin dalam masalah waktu
  6. Belum ada evaluasi pencapaian calon Pertua Diakenselama pembinaan.
  7. Dana pembinaan sangat minim, bahkan ada runggun yang tidak menganggarkannya sama sekali.

Berkaitan dengan masalah-masalah diatas maka penelitian menyarankan :

  1. Setelah terpilih segera dilakukan pembinaan dasar. Pembinaan hendaknya diatur materi dan pesertanya jangan terlalu banyak, maksimal 40 orang setiap kelas. Kehadiran Pertua Diaken dalam pembinaan ini akan menjadi persyaratan dalam pemilihan berikutnya.
  2. Pembinaan Pertua Diaken terutama dilakukan oleh PPWG Klasis, oleh karena itu tiap klasis harus membentuk tim PPWG Klasis dan diperkuat dengan memanfaatkan tokoh-tokoh GBKP yang sudah berkarya dan berhasil di tengah masyarakat. Tugasnya anatara lain menyusun rencana pembinaan, mencari tenaga penhajar dan emmeprsiapkan pelaksanaan pembinan
  3. Di buat jadwal pembinaan lanjutan setiap tahun meliputi materi telogia dan non teologia seperti manajemen konflik, kepemimpinan, manajemen gereja, kemampuan berkomunikasi, etika organisasi dan sosial ekonomi. Pemateri dapat berasal dari tokoh-tokoh GBKP dan tokoh-tokoh di luar GBKP yang berkompeten.
  4. Modul-modul pembinaan untuk tiap tahapan pembinaan dibuat oleh PPWG Moderamen dan modul tambahan untuk muatan lokal dibuat oleh klasis atau runggun, kalau mempunyai kebutuhan khusus. (modul-modul ini akan disikusikan oleh Biro Litbang untuk menjadi masukan bagi PPWG)
  5. Pertua Diaken diminta untuk mengajukan bidang pelayanan yang diminatinya, sehingga dapat diaturkan juga kelompok pembinaan yang terpisah sesuai dengan bidang bidang pelayanan.
  6. Perlu ditambah materi pembinaan tentang okultisme, teologia, pendidikan cara khotbah (homeletika).
  7. Anggaran pembinaan perlu diadakan minimal 20% dari anggaran gereja.

C. PERSEKUTUAN KATEGORIAL

Penelitian tentang SDM Kategorial ini belum pernah dilakukan, oleh karena itu masih belum dapat diberikan data-data, namun dari hasil pengamtan maka dapat disimpulkan bahwa diperlukan juga pembinaan SDM Persekutuan Kategorial ini agar bisa lebih berkinerja

D. WARGA JEMAAT

Demikian bervariasinya latar belakang, pengalaman, pendidikan, pekerjaan warga jemaat sehingga sulit untuk merencanakanya secara terpusat. Lebih tepat direncanakan secara lokal